Paser (Madrasah) - MAN Insan Cendekia Paser memperkuat pelaksanaan Program Tahunan Karantina Tahfidz 2026 yang berlangsung pada 16 Februari -13 Maret 2026 dengan menurunkan Tim Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) terbaik. Langkah ini dilakukan untuk memastikan pembinaan tahfiz berjalan intensif, terukur, dan konsisten selama bulan suci Ramadhan.
Kepala MAN IC Paser, Muhammad Nur menegaskan bahwa keberhasilan program tahfiz sangat ditentukan oleh kualitas pendampingan. Karena itu, madrasah menugaskan GTK dengan kompetensi terbaik untuk mengawal seluruh rangkaian karantina, mulai dari tahsin, setoran hafalan, murojaah, hingga evaluasi capaian. “Kami menurunkan tim GTK terbaik agar pembinaan berjalan serius dan terarah. Target hafalan penting, tetapi kualitas bacaan, adab, dan disiplin harus menjadi standar utama,” ujarnya.
Selama Karantina Tahfidz, madrasah lebih memfokuskan aktivitas murid pada kegiatan keagamaan serta pembinaan Tahfidzul Quran. Pola pendampingan yang diterapkan bersifat menyeluruh dari pagi hingga malam.
Tim GTK berperan sebagai pembina sekaligus pengawas capaian harian. Mereka melakukan koreksi tajwid dan makharijul huruf, menetapkan target yang realistis, memantau konsistensi murojaah, serta memberi penguatan motivasi agar murid tetap fokus dan stabil selama program. Madrasah juga membangun koordinasi internal melalui pembagian peran pendamping, jadwal pembinaan, dan evaluasi rutin untuk menjaga kualitas layanan tahfiz.
Selain fokus pada hafalan, pendampingan juga diarahkan pada pembentukan karakter. Tim GTK membina kedisiplinan waktu, kebiasaan ibadah, tanggung jawab, serta adab dalam kebersamaan selama karantina. Madrasah menilai pendekatan ini penting agar murid tidak hanya meningkat hafalannya, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi Qurani yang matang secara sikap.
Melalui penguatan tim pendamping, MAN IC Paser menargetkan Program Tahunan Karantina Tahfidz menjadi program unggulan yang berkelanjutan dan berdampak nyata. Civitas akademika MAN IC Paser berharap program ini melahirkan murid yang berprestasi, berakhlak mulia, serta memiliki kecintaan yang kuat terhadap Al-Qur’an. (nan)
Kepala MAN IC Paser, Muhammad Nur menegaskan bahwa keberhasilan program tahfiz sangat ditentukan oleh kualitas pendampingan. Karena itu, madrasah menugaskan GTK dengan kompetensi terbaik untuk mengawal seluruh rangkaian karantina, mulai dari tahsin, setoran hafalan, murojaah, hingga evaluasi capaian. “Kami menurunkan tim GTK terbaik agar pembinaan berjalan serius dan terarah. Target hafalan penting, tetapi kualitas bacaan, adab, dan disiplin harus menjadi standar utama,” ujarnya.
Selama Karantina Tahfidz, madrasah lebih memfokuskan aktivitas murid pada kegiatan keagamaan serta pembinaan Tahfidzul Quran. Pola pendampingan yang diterapkan bersifat menyeluruh dari pagi hingga malam.
Tim GTK berperan sebagai pembina sekaligus pengawas capaian harian. Mereka melakukan koreksi tajwid dan makharijul huruf, menetapkan target yang realistis, memantau konsistensi murojaah, serta memberi penguatan motivasi agar murid tetap fokus dan stabil selama program. Madrasah juga membangun koordinasi internal melalui pembagian peran pendamping, jadwal pembinaan, dan evaluasi rutin untuk menjaga kualitas layanan tahfiz.
Selain fokus pada hafalan, pendampingan juga diarahkan pada pembentukan karakter. Tim GTK membina kedisiplinan waktu, kebiasaan ibadah, tanggung jawab, serta adab dalam kebersamaan selama karantina. Madrasah menilai pendekatan ini penting agar murid tidak hanya meningkat hafalannya, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi Qurani yang matang secara sikap.
Melalui penguatan tim pendamping, MAN IC Paser menargetkan Program Tahunan Karantina Tahfidz menjadi program unggulan yang berkelanjutan dan berdampak nyata. Civitas akademika MAN IC Paser berharap program ini melahirkan murid yang berprestasi, berakhlak mulia, serta memiliki kecintaan yang kuat terhadap Al-Qur’an. (nan)